Text
Kalau tak untung
Buku ini bercerita mengenai sahabat karib Rasmani dan Masrul yang sudah berteman akrab sejak kecil walaupun status sosial mereka berbeda jauh. \\r\\n\\r\\nMasrul berasal dari sebuah keluarga kaya yang terhormat, sedangkan Rasmani berasal dari sebuah keluarga kurang mampu yang sering dicibir warga lain. \\r\\n\\r\\nDi saat keluarga lain mengacuhkan pendidikan dan mengawinkan anak-anak perempuannya saat mereka masih muda, keluarga Rasmani malah mendorongnya untuk menimba ilmu setinggi-tingginya lalu menjadi guru. \\r\\n\\r\\nPandangan mereka yang berbeda itulah yang menjadikan mereka bahan cibiran di desa, warga desa lain menganggap bahwa usaha orang tua Rasmani membiayainya sekolah aneh karena perempuan tidak butuh sekolah, seharusnya kawin muda saja lalu mengerjakan pekerjaan rumah.\\r\\n\\r\\nKetika Masrul berumur 19 tahun, ia mendapat pekerjaan sebagai juru tulis di Painan. Tetapi sebelum ia pergi merantau, ibunya memaksanya untuk menikahi salah satu anak Mamaknya agar ia tidak pergi merantau sendiri. \\r\\n\\r\\nMasrul pun menolak karena ia tidak ingin memiliki istri yang tidak bisa membaca tulis serta tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah. \\r\\n\\r\\nIa juga tidak setuju karena beberapa alasan lainnya seperti gajinya yang tidak akan cukup untuk hidup dengan seorang istri, calon istrinya yang belum sanggup diajak hidup merantau karena umurnya masih 14 tahun, serta pernikahan dengan sepupu akan menghasilkan anak yang cacat. Namun atas desakan ibunya, ia pun setuju akan menikah dengan Aminah, salah satu anak Mamaknya setelah ia bekerja di Painan selama 2 tahun. \\r\\n\\r\\nMasrul pun pergi ke rumah Rasmani untuk mengucapkan selamat tinggal dan Rasmani yang diam-diam mencintai sahabatnya itu dengan berat hati melepaskannya.\\r\\n\\r\\nRasmani yang sekarang sudah menjadi guru sedang asik bermain dengan murid-muridnya di pekarangan sekolah ketika ia mendapat surat pertama dari Masrul. Isi surat tersebut mengagetkan Rasmani, Masrul mengabarkan bahwa ia akan menikah dengan Aminah. Selain itu, Masrul memintanya mengajari Aminah baca tulis. \\r\\n\\r\\nAwalnya, Rasmani ingin menolak permintaan Abangnya itu karena kaum orang-orang kaya seperti Aminah sering mencemoohnya, tetapi ia akhirnya setuju demi kebahagiaan Masrul yang tidak ingin menikah dengan perempuan buta huruf. \\r\\n\\r\\nRasmani pun menepati janjinya dan ternyata Aminah merupakan seseorang yang terang hatinya, Aminah sangat bersyukur bahwa Rasmani setuju untuk mengajarkannya baca tulis sehingga dalam hatinya amatlah dipujinya Rasmani.\\r\\n\\r\\nDi perantauan, Masrul berkenalan dengan Engku Guru Gedang yang menawarkan Masrul untuk menikahi anaknya, Muslina. Masrul pun bimbang karena walaupun ia sudah bertunangan dengan Aminah, ia masih sering memikirkan Rasmani, lalu ditambah lagi dengan Muslina yang merupakan perempuan cantik, pintar, dan berharta. \\r\\n\\r\\nSelain itu, Engku Guru Gedang menjanjikan bahwa kebutuhan rumah tangga mereka semua akan ditanggung oleh keluarga Muslina.\\r\\n\\r\\nBingung harus melakukan apa, Masrul meminta bantuan pada Rasmani untuk membantunya memilih. Rasmani menyarankan bahwa sebaiknya ia memilih istri yang memiliki budi baik dan sopan santun, bukan seseorang yang kaya tetapi tidak mencintai suaminya. Sayangnya, Masrul sudah terpikat oleh kekayaan dan kecantikan Muslina sehingga ia tidak bisa melupakannya.\\r\\n\\r\\nSetelah 2 tahun bekerja di Painan, barulah Masrul teringat akan perjanjiannya dengan ibunya untuk menikahi Aminah. Masrul sempat ragu dalam memilih, tetapi pada akhirnya ia memutuskan bahwa ia akan menikahi Muslina. \\r\\n\\r\\nIa pun menulis surat permohonan maaf kepada ayah dan ibunya serta pada Mamaknya karena ia akan menikahi Muslina, bukan Aminah.
Tidak tersedia versi lain